Inovasi Pertanian Padi di Gantuang Ciri: Menguak Potensi "MTOT" dan "SPM"
NAGARI GANTUANG CIRI, KECAMATAN KUBUNG, KABUPATEN SOLOK – Sektor pertanian padi memegang peranan vital sebagai mata pencarian utama masyarakat di Gantuang Ciri, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok. Dengan luasan sawah mencapai sekitar 403 hektare, wilayah ini terus berupaya meningkatkan produktivitas melalui inovasi dan adaptasi terhadap praktik pertanian modern, termasuk penerapan metode Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT) dan Sawah Pokok Murah (SPM).
MTOT: Padi Subur Tanpa Olah Tanah
Salah satu terobosan menarik yang sedang dikembangkan di Gantuang Ciri adalah konsep MTOT, atau Mulsa Tanpa Olah Tanah. Metode ini mengacu pada budidaya padi tanpa proses pengolahan tanah yang intensif, seperti pembajakan. Sebagai gantinya, petani memanfaatkan jerami sisa panen sebelumnya sebagai mulsa.
"Kalau kami bilang MTOT, mulsa tanpa olahraga," ujar seorang petani setempat. "Sawah ini enggak ada pengolahan, cuma kita bikin bedengan, langsung dikasih jerami, langsung tanam, enggak pakai bajak."
Jerami yang dihamparkan di permukaan tanah memiliki fungsi ganda: pertama, mempertahankan kelembaban tanah, dan kedua, menekan pertumbuhan gulma. Dengan demikian, petani dapat mengurangi frekuensi penyiangan, menghemat tenaga dan biaya. Jerami dibiarkan terurai secara alami, dan dalam waktu sekitar 40 hari setelah tanam, jerami akan meluruh dan menyatu dengan tanah.
Meski demikian, terdapat tantangan dalam penerapan MTOT. Petani harus memastikan area sawah bersih dari bulir-bulir padi yang tertinggal di ujung saat panen sebelumnya. Jika tidak dibersihkan secara menyeluruh, bulir-bulir ini dapat tumbuh menjadi gulma baru yang mengganggu.
SPM: Sawah Pokok Murah untuk Produktivitas Optimal
Selain MTOT, dikenal pula istilah SPM, atau "Sawah Pokok Murah". Meskipun sama-sama bertujuan menekan biaya produksi, SPM memiliki pendekatan yang sedikit berbeda. Proses SPM melibatkan pembuatan bedengan dengan lebar sekitar empat baris tanam, diselingi dengan parit atau saluran air. Setelah itu, pupuk kandang diaplikasikan dan ditutup dengan jerami sebagai mulsa.
Menurut petani, "Kalau Sawah Pokok Murah, kita harus bikin bedengan dulu. Kemudian dikasih pupuk kandang, baru ditutup sama jerami." Meski pada awalnya terkesan lebih rumit, terutama bagi petani yang belum terbiasa, metode ini akan menjadi lebih efisien seiring waktu. "Sebenarnya itu kebiasaan. Kalau baru pertama, ribet. Tapi kalau sudah memikir bedengan itu kan cuma sekali," ujar pak Alvin selaku PPL Kecamatan Kubung.
Varietas Padi Unggulan dan Tantangannya
Petani di Gantuang Ciri menanam berbagai varietas padi, termasuk Cerede, Nak Daro, Bujang Rantau, Cisokan, Banang Pulau, Batang Sungkai, dan Jonjong. Di antara varietas-varietas tersebut, Cisokan disebut-sebut sebagai varietas yang paling mahal dan memiliki cita rasa terbaik.
"Paling mahal itu adalah Cisokan," ungkap seorang petani. Cisokan juga dikenal memiliki umur panen yang relatif cepat, sekitar 100-105 hari, atau paling lambat 110 hari. Namun, varietas ini rentan terhadap penyakit blas, terutama saat musim hujan berlebih.
Intensifikasi Tanam dan Jajar Legowo
Dengan sistem irigasi yang lancar, Gantuang Ciri kini mampu menerapkan pola tanam padi IP (Indeks Pertanaman) 3 kali setahun. Artinya, setelah panen, lahan sawah bisa langsung ditanami kembali dalam waktu singkat, sekitar 7 hingga 15 hari. Percepatan ini dimungkinkan karena bibit padi sudah disemai sebelum panen.
Dalam hal penanaman, petani disarankan menggunakan benih padi berumur pendek, maksimal 15-20 hari. Selain itu, sistem tanam Jajar Legowo (Jarwo), baik Jarwo 4-1 maupun Jarwo 2-1, juga disarankan untuk meningkatkan produktivitas. Meskipun Jarwo 2-1 dianggap lebih bagus, petani di Gantuang Ciri belum sepenuhnya terbiasa dengan sistem tanam ini karena dianggap lebih "ribet" dibandingkan cara tanam konvensional.
Secara keseluruhan, masyarakat Gantuang Ciri terus berupaya mengoptimalkan potensi lahan padi mereka melalui inovasi seperti MTOT dan SPM, serta adaptasi terhadap varietas unggulan dan sistem tanam yang lebih efisien. Tantangannya adalah mengubah kebiasaan petani agar lebih terbuka terhadap metode-metode baru yang dapat meningkatkan hasil panen secara signifikan.
Tim Penyusun :
Sherly Rahmawati Fitries, Astrid Anita Putri, Hanifah Humayra, Gamma Artha Dewa, dan Muhammad Ridho, Mahasiswa KKN Reguler 2 Universitas Andalas Posko Nagari Gantuang Ciri, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok